Minggu, 06 Maret 2011

POLA KEMITRAAN PETERNAKAN AYAM


Harga pakan kian melambung, tapi harga jual ayam tak jua membubung. Lantas, dengan pola bisnis yang bagaimana agar usaha peternakan Ayam terus bergulir dan meraup untung?

Para pelaku usaha mafhum, bisnis ayam ras pedaging penuh ketidakpastian lantaran harga hasil panennya naik turun. Kemarin boleh jadi meraup untung segunung, tapi besoknya bisa jadi malah buntung.
“Bisnis ayam ras (pedaging) itu 70% gambling. Sebab, setelah dipelihara 35 hari, tidak seorang pun tahu harga jualnya berapa,” komentar H. Ajat Darajat, pemilik Naratas Poultry Shop di Cikoneng, Ciamis, Jabar, yang menjalin kemitraan dengan 854 peternak. Walau begitu, selama 27 tahun, ia tetap eksis menjalankan roda bisnis perunggasan. Pasalnya, ia memiliki jurus agar usahanya menguntungkan.
Ada tiga tipe peternak ayam pedaging di tanah air, yaitu kemitraan, mandiri, dan komersial farm yang dimiliki pabrikan (industri). Pelaksana kemitraan (inti) adalah industri seperti gGrup Japfa, Charoen Pokphand (CP), CJ Feed, Sierad Produce, Wonokoyo, poultry shop (PS), maupun pribadi pemilik modal besar. Peternak kemitraan tidak membeli sapronak dan tidak memasarkan hasil panen sendiri. Mereka memperoleh penghasilan atas dasar kesepakatan dengan inti.
Sementara peternak mandiri adalah mereka yang membeli sapronak dari pabrikan dan menjual hasil panen sendiri sehingga untung maupun rugi ditanggung sendiri.

POLA KEMITRAAN

Menurut pengalaman H. Idung, peternak di Desa Tapos, Kec. Tenjo, Bogor, peternak mandiri menghadapi risiko besar. “Sebelum memilih kemitraan, saya berusaha sendiri. Namun untuk memasarkan 500—1.000 ekor saja saya bingung. Apalagi dalam kondisi bisnis perunggasan seperti saat ini. Sekarang banyak peternak mandiri bingung karena terlibat utang. Ditambah lagi piutang di agen-agen di pasar belum lunas, peternak sudah kembali panen. Kejadian itu terus berantai,” paparnya.
Menurut Achmad Dawami, Senior Vice President PT Primatama KaryaPersada (grup Japfa), untuk menyikapi iklim bisnis saat ini, peternak lebih baik bermitra. Pasalnya, biaya produksi mahal akibat harga pakan meningkat terus. Sementara harga jual ayam elastisitasnya tinggi. “Dengan bermitra, modal dan sarana produksi, serta pasar, dijamin inti,” jelasnya.

Tanpa mengesampingkan pola mandiri, tampaknya sistem kemitraan menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan bisnis dalam budidaya ayam ras saat ini. Apalagi, menurut Heri Setiawan, Communication Manager PT Wonokoyo Jaya Corporindo di Surabaya, Jatim, sebagian besar peternak ayam ras adalah peternak rakyat kecil. Mereka memiliki keterbatasan dalam banyak hal seperti modal, teknologi, maupun sumber daya. Di lain pihak, inti khususnya pabrikan memiliki kelebihan di bidang tersebut.

Tjeppy D. Soedjana, Dirjen Peternakan, Deptan, menegaskan, kemitraan perunggasan mempunyai tujuan utama untuk saling berbagi sumber daya dalam mengoptimalkan nilai tambah dari input, proses produksi, maupun output. Kemitraan tersebut dibutuhkan oleh perusahaan besar (penyandang modal besar) karena dapat berperan sebagai pasar sapronak dan berbagi risiko. “Prinsip share in resources and benefit tersebut dapat meningkatkan manfaat ekonomi bagi kedua belah pihak yang bermitra,” ujarnya.

Dawami menambahkan, win-win solution bukan berarti segala sesuatunya dibagi rata. Namun, “Wajar seandainya pada saat harga ayam potong hancur, si mitra tidak mengalami kerugian. Demikian pula ketika harga tinggi, si mitra juga bisa menikmati sesuai porsi masing-masing,” urai Dawami. Walaupun pembagian risiko, terutama pasar, akan dihadapi oleh inti.

Melalui kemitraan, paling tidak peternak plasma mempunyai kepastian usaha 5—6 kali dalam setahun. Soal perolehan keuntungan, tergantung model kemitraan mana yang dipilih dan indeks prestasi yang dihasilkan peternak selama memelihara ayam.

Manfaat bermitra sudah banyak dirasakan para peternak yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, NTB, dan Sulawesi. Indikasinya, dari 2,5 juta peternak ayam ras saat ini, 70%—90% adalah peternak kemitraan. “Padahal, sampai dengan 1997, sebelum krisis, peternak ayam ras didominasi oleh peternak mandiri. Peternak yang bermitra hanya sekitar 20%,” papar Dawami.
Secara umum, kemitraan ayam ras pedaging di tanah air terbagi menjadi 3 sistem: bagi hasil, harga kontrak, dan manajemen fee atau makloon.

( Dadang WI, Enny Purbani, Yan Suhendar, Selamet R., Ryan - Yogyakarta, Indah Retno Palupi --Surabaya).

Program INVESTASI TERNAK (tertutup)

Dan dengan ini Investasi Ternak ingin mengajak rekan – rekan untuk dapat bergabung dalam pola kemitraan ( pola syariah ) dalam peternakan Ayam yang sudah dijalankan oleh Investasi Ternak.
Untuk memperkecil resiko kerugian, maka pola kemitraan yang akan ditawarkan Investasi Ternak kepada rekan – rekan baru hanya untuk investasi Aset kandang peternakan Ayamnya saja, adapun besar biaya pembuatan kandang untuk kapasitas 4000 ekor adalah sebesar Rp. 40 juta ( kandang bambu & untuk lahan milik Investasi Ternak) & kandang dapat bertahan dalam waktu ± 7 tahun.
Untuk mempermudah rekan – rekan dapat berinvestasi, maka secara kasar perhitungannya adalah : biaya Rp. 40 jt tersebut akan dibuatkan saham sebanyak 20 lembar, sehingga per saham seharga Rp. 2 jt & untuk keuntungan persaham ± 10 % per 2 bulan.

Oleh karena itu jika rekan – rekan berminat, silahkan menginformasikan / mendaftar di email kami di mitra.sbr@gmail.com, dikarenakan kami juga ingin mengetahui seberapa besar minat rekan – rekan untuk menjadi investor di peternakan kami ( Program belum dibuka ).

Salam

Abie Sobirin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar